Namanya serem banget yak, one dish meal. Tentunya bagi yang tidak tahu, makanan ini kesannya angker banget ya, susah bikinnya dan kebule-an banget. Padahal one dish meal itu sebenarnya sederhana sekali. Nah, buat Mpasi bayi, one dish meal bisa jadi andalan kalau si bayi lagi mogok makan, GTM, ribet makan karena tidak bisa diam, tidak suka disuapi dan terakhir pengen makan sendiri.
Aha! Cuta sedang mabuk pengen makan sendiri dia. Memang sih, di umurnya yang sudah 15 bulan ini, harusnya dia sudah mulai bisa makan sendiri. keinginannya untuk menyuapi diri sendiri sudah terlalu besar, padahal skill menyendoknya masih terbatas. Jadi menurut saya, one dish meal bisa menjadi jawaban yang ampuh untuk mengatasi anak yang sedang belajar makan.
Nah, apa itu one dish meal? Jawabannya simple banget. One dish meal adalah salah satu jenis makanan yang kandungan di dalamnya seimbang antara serat, air dan nutrisi seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin serta mineral lainnya dan disajikan dalam satu piring.
Contohnya, makanan pasta (karbohidrat) dengan sayur (serat, vitamin dan mineral) dan daging (protein dan lemak) yang disajikan secara bersama-sama tanpa dipisah-pisah, itu sudah termasuk one dish meal. Bentuk konkretnya adalah spageti (ketahuan emaknya Cuta suka spageti!).
Nah kembali ke masalah Cuta saya. Dia sudah pengen makan sendiri tapi kemampuan menyendoknya masih terbatas alias makanannya beleber ke pipi dan akhirnya kebuang percuma. Saya cari-cari solusinya, jawabannya memang one dish meal namun yang bisa dipegang. Jadi perpaduan antara one dish meal dan finger food. Dan ternyata makanan itu bisa berjenis perkedel, nuget yang ditambahkan karbo seperti nasi, kroket, sosis, roti dadar isi daging, makaroni scotel yang digoreng dijadikan nuget, martabak dan lainnya.
Saya coba search resep-resepnya di milis Mpasi Rumahan dan ternyata banyak. Namun kendalanya adalah hampir kebanyakan resep one dish meal plus finger foodnya itu digoreng yang rentan sekali dengan resiko panas dalam. Memang sih ada alternatif lain, dipanggang, namun cara memasak Mpasi dengan memanggang paling bagus dengan menggunakan oven. Masalahnya adalah saya tidak punya oven. yah, selesailah sudah!
Namun, rasanya masih bisa mengurangi resiko minyak dengan memanggang di teflon. Walau teksturnya mungkin tidak sesempurna oven, namun setidaknya bisa mengurangi minyak berlebihnya.
Nah, bagi mommy yang punya pengalaman seperti saya, please sharing dong info resep one dish meal plus finger foodnya? Atau ada yang punya tips memanggang tanpa oven?
Showing posts with label Artikel Mpasi. Show all posts
Showing posts with label Artikel Mpasi. Show all posts
Monday, April 29, 2013
Sunday, December 9, 2012
Say No To Makanan Instan?
Bahasa yang sederhana, namun mommy pasti tahu banyak sekali halangannya untuk menerapkannya di dunia per-Mpasian. Jujur, memang susah sekali menjalankan niat Mpasi home made yang aman dan sehat, terutama dengan adanya saudara-saudara. Saya sendiri mengalaminya, ipar sedari awal sudah menganjurkan memberi makanan instan suatu merk.
Pernah juga sekali waktu ketika saya memberikan hati ayam pada si Cuta. Ini adalah pemberian pertama, mencoba istilahnya dan ternyata dia tidak mau makan karena pahit. Ipar saya yang lagi satu dengan cepat menganjurkan untuk membelikan makanan instan. Mungkin saya memang terlalu sensi apalagi ipar yang ini sudah sering sekali memvonis bahwa baby saya PERLU makanan instan. Syukur tidak semua makanannya saya campur hati, setelah diberikan makanan baru non hati, si baby makan lagi dengan lahap.
Saya pernah putus asa dengan Mpasi Homemade ketika hampir 3 bulan Cuta GTM. Banyak jenis masakan yang saya bikinkan, namun hasilnya sama. Bibirnya tertutup dengan sukses. Lalu, dengan putus asa saya membelikannya satu box kecil makanan instan. Lama saya memilih, menimbang dan akhirnya memutuskan untuk membelikannya rasa pasta kaldu ayam.
Sampai di rumah, saya seduhkan bubur instannya dan saya cicipi. Oh, tidak! ini mah penyedap murni rasanya, kaldunya bener-bener tidak asli. Ragu-ragu saya berikan bubur ini, dan ternyata si Cuta tidak doyan juga. Hahaha.. saya tertawa puas. Ternyata dia GTM bukan karena Mpasi home made ala emaknya tidak enak, namun ternyata pada Mpasi instan juga dia say no!
Kadang saya butuh bukti untuk meyakinkan orang-orang di sekeliling bahwa bayi saya tidak perlu makanan instan. Pada mertua sih tidak masalah, karena syukur, mereka adalah orang yang mengerti bahwa iptek itu sudah berkembang dari waktu ke waktu, namun masalahnya adalah ipar-ipar yang notabene sudah berpengalaman dalam per-MPasian. Namun hingga saat ini, saya memberikan si Cuta Bubur instan baru dua kali, pertama waktu pulang kampung dan tidak ada kompor, kedua yang kemarin GTM gitu.
Saya sendiri sih tidak say no to makanan Mpasi instan, karena saya masih memberikan dia biskuit bayi merk tertentu. Alasannya klasik, tak ada oven untuk buat cookies hihihihhi
Namun memang sebaiknya untuk awal Mpasi, bayi hendaknya diberikan makanan homemade. Bubur tepung beras yang dicairkan pake ASI misalnya, memiliki rasa yang lebih tawar dibandingkan bubur instan. Ipar saya lagi satu yang babynya seumuran sama Cuta mengalaminya. Awal Mpasi diberikan bubur instan merk tertentu, terus di tengah jalan mommynya mau ganti pake yang homemade, hasilnya, bayinya menolak karena sudah terbiasa makan yang manis-manis, diberikan bubur beras dengan ASI yang lebih tawar dia tidak doyan.
Ah, miris sebenarnya melihat kebiasaan di sekitar saya yang lebih memilih Mpasi kotakan dan instan untuk bayi. Mpasi instan mengandung berbagai macam bahan kimia seperti pengawet dan juga gula tambahan, istilahnya seperti mie instan untuk orang dewasa. Bayi pencernaannya masih sangat sensitif dan rentan, diberikan paparan zat kimia seperti itu setiap hari, apa yang bisa terjadi?
Mempopulerkan Mpasi homemade sangat susah di masyarakat. Tradisi dari orang tua dahulu memang selalu mengasosiasikan makanan bayi dengan merk SUN, dan anehnya anak-anak jaman itu yang sekarang sudah dewasa ternyata baik-baik saja. Kondisi ini yang membuat kebiasaan memberikan makanan instan kepada bayi juga turun temurun. Parahnya, kebiasaan ini juga di-Amin-i oleh dokter.
Pernah juga sekali waktu ketika saya memberikan hati ayam pada si Cuta. Ini adalah pemberian pertama, mencoba istilahnya dan ternyata dia tidak mau makan karena pahit. Ipar saya yang lagi satu dengan cepat menganjurkan untuk membelikan makanan instan. Mungkin saya memang terlalu sensi apalagi ipar yang ini sudah sering sekali memvonis bahwa baby saya PERLU makanan instan. Syukur tidak semua makanannya saya campur hati, setelah diberikan makanan baru non hati, si baby makan lagi dengan lahap.
Saya pernah putus asa dengan Mpasi Homemade ketika hampir 3 bulan Cuta GTM. Banyak jenis masakan yang saya bikinkan, namun hasilnya sama. Bibirnya tertutup dengan sukses. Lalu, dengan putus asa saya membelikannya satu box kecil makanan instan. Lama saya memilih, menimbang dan akhirnya memutuskan untuk membelikannya rasa pasta kaldu ayam.
Sampai di rumah, saya seduhkan bubur instannya dan saya cicipi. Oh, tidak! ini mah penyedap murni rasanya, kaldunya bener-bener tidak asli. Ragu-ragu saya berikan bubur ini, dan ternyata si Cuta tidak doyan juga. Hahaha.. saya tertawa puas. Ternyata dia GTM bukan karena Mpasi home made ala emaknya tidak enak, namun ternyata pada Mpasi instan juga dia say no!
Kadang saya butuh bukti untuk meyakinkan orang-orang di sekeliling bahwa bayi saya tidak perlu makanan instan. Pada mertua sih tidak masalah, karena syukur, mereka adalah orang yang mengerti bahwa iptek itu sudah berkembang dari waktu ke waktu, namun masalahnya adalah ipar-ipar yang notabene sudah berpengalaman dalam per-MPasian. Namun hingga saat ini, saya memberikan si Cuta Bubur instan baru dua kali, pertama waktu pulang kampung dan tidak ada kompor, kedua yang kemarin GTM gitu.
Saya sendiri sih tidak say no to makanan Mpasi instan, karena saya masih memberikan dia biskuit bayi merk tertentu. Alasannya klasik, tak ada oven untuk buat cookies hihihihhi
Namun memang sebaiknya untuk awal Mpasi, bayi hendaknya diberikan makanan homemade. Bubur tepung beras yang dicairkan pake ASI misalnya, memiliki rasa yang lebih tawar dibandingkan bubur instan. Ipar saya lagi satu yang babynya seumuran sama Cuta mengalaminya. Awal Mpasi diberikan bubur instan merk tertentu, terus di tengah jalan mommynya mau ganti pake yang homemade, hasilnya, bayinya menolak karena sudah terbiasa makan yang manis-manis, diberikan bubur beras dengan ASI yang lebih tawar dia tidak doyan.
Ah, miris sebenarnya melihat kebiasaan di sekitar saya yang lebih memilih Mpasi kotakan dan instan untuk bayi. Mpasi instan mengandung berbagai macam bahan kimia seperti pengawet dan juga gula tambahan, istilahnya seperti mie instan untuk orang dewasa. Bayi pencernaannya masih sangat sensitif dan rentan, diberikan paparan zat kimia seperti itu setiap hari, apa yang bisa terjadi?
Mempopulerkan Mpasi homemade sangat susah di masyarakat. Tradisi dari orang tua dahulu memang selalu mengasosiasikan makanan bayi dengan merk SUN, dan anehnya anak-anak jaman itu yang sekarang sudah dewasa ternyata baik-baik saja. Kondisi ini yang membuat kebiasaan memberikan makanan instan kepada bayi juga turun temurun. Parahnya, kebiasaan ini juga di-Amin-i oleh dokter.
Thursday, November 29, 2012
Hyper Beta Caroten pada Bayi
Pernah melihat bayi baru lahir kuning?
Ini adalah hal yang biasa, namun bagaimana jika bayi usia 10 bulan kuning? Ini bisa terjadi karena bayi kebanyakan makan makanan yang mengandung beta carotene. Iya, hyper beta carotene merupakan seuatu kondisi dimana bayi berwarna kuning terutama pada kulit dan telapak tangan karena kebanyakan mengkonsumsi makanan yang mengandung beta karoten.
Apakah hal ini wajar dan berbahaya? Wajar tentu saja jika menu si bayi memang kebanyakan beta karoten dan tentu saja tidak berbahaya karena bisa hilang sendiri jika asupan beta karoten untuk sementara dihentikan. Sisa beta karoten dalam tubuh akan larut dalam air sehingga akan berkurang.
Cuta sendiri sih belum pernah divonis begini sama dokter karena dia memang jarang ke dokter kecuali imunisasi (hehehehe). Tapi beberapa hari yang lalu saya pernah perhatikan kulitnya, ketika saya bandingkan dengan kulit saya, kulitnya dia memang lebih kuning. Bisa jadi memang dia kena sindrom ini mengingat wortel dan kabocha merupakan menu hariannya.
Hehehe… maklum, emaknya kurang pengalaman menyajikan makanan. Isi kulkasnya cuman itu. Nah selanjutnya, makanan apa saja yang mengandung beta karoten tinggi? Wortel adalah yang utama dan paling sering ditemui, Labu kuning / kabocha, pepaya, Ubi, bayam, blewah.
Kondisi kuning akibat kelebihan beta karoten ini bisa hilang setelah konsumsi berbagai makanan ber-beta karoten distop. Namun setelah kuning hilang dan kulit kembali normal, mommy bisa kok memberikan buah dan sayur tersebut, namun jangan terlalu sering dan berbarengan dalam satu hari.
Ini adalah hal yang biasa, namun bagaimana jika bayi usia 10 bulan kuning? Ini bisa terjadi karena bayi kebanyakan makan makanan yang mengandung beta carotene. Iya, hyper beta carotene merupakan seuatu kondisi dimana bayi berwarna kuning terutama pada kulit dan telapak tangan karena kebanyakan mengkonsumsi makanan yang mengandung beta karoten.
Apakah hal ini wajar dan berbahaya? Wajar tentu saja jika menu si bayi memang kebanyakan beta karoten dan tentu saja tidak berbahaya karena bisa hilang sendiri jika asupan beta karoten untuk sementara dihentikan. Sisa beta karoten dalam tubuh akan larut dalam air sehingga akan berkurang.
Cuta sendiri sih belum pernah divonis begini sama dokter karena dia memang jarang ke dokter kecuali imunisasi (hehehehe). Tapi beberapa hari yang lalu saya pernah perhatikan kulitnya, ketika saya bandingkan dengan kulit saya, kulitnya dia memang lebih kuning. Bisa jadi memang dia kena sindrom ini mengingat wortel dan kabocha merupakan menu hariannya.
Hehehe… maklum, emaknya kurang pengalaman menyajikan makanan. Isi kulkasnya cuman itu. Nah selanjutnya, makanan apa saja yang mengandung beta karoten tinggi? Wortel adalah yang utama dan paling sering ditemui, Labu kuning / kabocha, pepaya, Ubi, bayam, blewah.
Kondisi kuning akibat kelebihan beta karoten ini bisa hilang setelah konsumsi berbagai makanan ber-beta karoten distop. Namun setelah kuning hilang dan kulit kembali normal, mommy bisa kok memberikan buah dan sayur tersebut, namun jangan terlalu sering dan berbarengan dalam satu hari.
Subscribe to:
Posts (Atom)


